Jumat, 29 November 2013

acara gawai dayak

Acara gawai dayak Acara gawai dayak adalah suatu acara adat istiadat secara turun temurun yang merupakan acara syukuran sesudah panen.Gawai dayak ini selalu dilakukan oleh orang-orang dayak,acara gawai dayak ini dilakukan setahun sekali karena acara ini merupakan acara syukuran atas hasil panen masyarakat setempat. Acara gawai dayak ini tidak dilakukan oleh sembarangan orang,yang sangat berperan dalam acara gawai dayak ini adalah orang yang mengerti adat istiadat seperti,ketua adat,dewan adat,temenggung,setelah itu barulah orang yang tua dalam kampung itu. Acara gawai dayak ini dimulai dari: 1. Manggul (menandai tempat yang mau di jadikan ladang) 2. Nebas dan nebang( memotong kayu dan memotong alang-alang atau pohon yang kecil-kecil) 3. Nunu( bakar ladang) 4. Nayak,manduk,ngerumpang( membakar sisa kayu yang tidak hangus semua) 5. Nugal(menamam padi) 6. Mabau,mantun(cabut rumput) 7. Ngetau(panen) 8. Puncak acara gawai dayak Sebelum adanya gawai dayak biasa nya masyarakat membuka ladang yang akan dijelaskan seperti yang di bawah ini: 1. Manggul (menandai tempat yang akan di jadikan ladang) Manggul adalah hal yang dilakukan untuk pertama kali sebelum membuka lahan untuk di jadikan ladang.Pada saat manggul orang tua membawa parang dan batu pengasah,karena itu merupakan alat untuk menandai batas-batas yang akan di jadikan ladang,tanda atau simbol nya di lambang kan dengan kayu yang diselipkan,dan tanah yang di tandai tidak boleh terlalu luas karena masih banyak pantang pentinya sebelum ladang itu dibakar,misalnya apabila mau turun menandai tanah di tengah jalan tiba-tiba bertemu burung ketupung,maka pergi menandai ladang/manggul maka harus dibatalkan atau di tunda .Apabila ladang ini sudah di tandai dan pada malam hari ada mimpi buruk /suatularangan yang tidak diperbolehkan buat ladang di tempat yang telah di tandai,maka harus di batalkan dan ditunda pada tahun kedepannya. 2. Nebas dan nebang(memotong kayu dan memotong pohon yang kecil-kecil) Nebas dan nebang ini biasanya dilakukan pada bulan 7-8,apabila ladang sudah di panggul maka harus ditebas untuk membersihkan pohon-pohon kecil untuk mempermudah menebang pohon-pohon yang lebih besar.Membuat ladang pun tidak hanya dibersihkan pohon kecil,akan tetapi,pohon besar juga harus dibersihkan atau ditebang menggunakan kapak,beliung dan pohon-pohon yang tidak terlalu besar dapat ditebang menggunakan parang atau pisau. 3. Nunu atau bakar ladang Bakar ladang ini dilakukan setelah ladang tersebut ditebas atau ditebang.Membakar ladang ini tidak dilakukan sendiri dan harus membentuk kelompok atau gotong royong,hal ini dilakukan agar mencegah agar tidak terjadinya kebakaran hutan.Supaya ladang tersebut hangus terbakar orang-orang ngerintai api sekeliling ladang tersebut suapaya ladang tersebut hangus terbakar. Ke esokan harinya jika kita keladang menemukan salah satu binatang yang mati akibat bakar ladang maka waktu nuggal tersebut harus dilakukan besar besaran . 4. Nayak,manduk,atau ngerumpang(membakar sisa kayu yang tidak hangus semua) Nayak merupakan salah satu cara yang dilakukan orang-orang setelah nunu atau bakar ladang,kayu yang tidak hangus atau tidak habis terbakar maka kayu-kayu tersebut harus tersusun atau di jadikan beberapa tumpukan,setelah di tumpukan kayu tersebut dibakar kembali. 5. Menanam jagung atau sayuran-sayuran kampung Sesudah manduk atau nayak maka suatu ladang dapat dimulai dengan menanam jagung atau sayur-sayuran. Hal ini dilakukan sebelum menanam padi,setelah sayuran dan jagung ini tumbuh maka baru boleh nugal atau nanam padi. 6. Nugal ( menanam padi ) Nugal atau menanam padi harus dilakukan secara gotong royong atau berkelompok. Jenis padi yang dapat ditanam ada dua yaitu padi pulut atau ketan dan padi biasa,menanam padi ini dapat dilakukan dengan memotong atau menyembelih ayam 3 ekor saja sudah cukup dan darah ayam tersebut harus dipercikan pada padi yang akan ditanam nantinya dalam bahasa kampungnya disebut ‘’ sengkelan’’ dan apabila ditengah ladang yang sudah dibakar tadi ditemukan binatang ular atau trenggiling maka pada saat nugal harus menyembelih ayam 7 ekor dan babi satu ekor itu merupakan wujud pergantian roh dengan binatang tersebut dan diyakini agar semengat padi tidak dimakan binatang tersebut. Alat-alat yang digunakan pada saat nugal yaitu: tugal yang terbuat dari kayu,tanggui(alat penutup kepala),takin kecil( cupai pemenih). 7. Musim mabau atau mantun( cabut rumput ) Musim ini adalah musim dimana kita harus membersihkan ladang dari rumput –rumput yang ada dipinggir padi. Pada saat sekarang orang-orang sudah jarang mencabut rumput menggunakan tangan karena sudaha ada alat yang lebih modern yaitu menggunakan tangki untuk menyemprot rumput diladang. Musim ini berakhir sampai bulan desember. 8. Musim ngetam ( panen ) Adalah musim dimana padi harus diambil sebelum terlalu masak kecuali menyisakan benih-benih yang akan dijadikan bibit pada tahun berikutnnya. Ketika sudah dipanen padi tersebut dapat disimpan bisa dengan tangkai-tangkainya,bisa juga dibersihkan. Mengambil padi ini biasanya dengan menggunakan alat-alat seperti: takin,pengetam. Sesudah panen biasanya orang-orang membuat padi pansuh,kemudian padi yang sudah dipansuh ditumbuk dengan menggunakan lesung dan alu. Setelah padi itu menjadi beras kemudian beras tersebut dimasak menggunakan sampau ( periuk ) dan arang yang diperiuk digosokkan ketenggorokan,lauk yang digunakan untuk makan beras pansuh adalah ayam dan ini dimakan secara bersama-sama keluarga atau tetangga. 9. Membuat beram atau tuak Biasanya sebelum gawai dayak orang kampung harus membuat tuak atu beram sebulan sebelum gawai dayak berlangsung.Beram di buat dari pulut/ketan yang di masak terlebih dahulu kemudian didinginkan diatas tikar setelah dingin ketan tersebut di taburi dengan ragi atau bumbu dari tuak tersebut setelah itu dimasuki ke dalam tempayan,adapun pantang nya tidak boleh membawa buah yang sifatny asam kedalam rumah,tuak tidak bakal jadi bila ada salah satu orang kampung ada yang ninggal tidak boleh membuat tuak,kemudian tidak wanita datang bulan tidak boleh dekat dengan orang yang membuat tuak tersebut.setelah ketan di taburi,di masukan ragi dan di masukan ke dalam tempayan maka tempayan tersebut harus ditutup dengan daun simpur atau tapak labi.tidak lupa kayu lukai di letakan di bawah tempayan supaya menghidar dari roh-roh jahat. Puncak Acara Gawai Dayak Gawai dayak merupakan suatu tradisi yang turun ,menurun yang dilaksanakan setahun sekali dimana diadakan pada bulan 5,6 atau 7,daalam kegiatan gawai dayak ini merupakan acara syukuran atas panen selama setahun.Dalam acara gawai dayak ini ada acaraa khusus yang dilakukan seperti: tari-tarian dayak,menggantung kepala babi,paha babi dan kepala ayam di balai atau rumah adat,serta amembawa perahu kerumah-rumah,semua ini dilakukan agar rumah tangga di lindungi dan terhindar dari roh-roh jahat . Dalam acara gawai dayak ini masyarakat naik rumah adat sambil membawa pederak atau pegelak dengan tujuan memberi makan roh-roh halus atau Puyang Gana. Arti dari gawai dayak itu sendiri adalah nyuruh “NYURUH GAYU GURU,GERAI NYAMAI NGUAN MENUA” artinya biar orang tersebut sehat dan panjang umur dalam suatu perkampungan.Tuak yang sidah dibuat itu di kumpulkan dibawa kerumah adat untuk di minum bersama-sama.Dirimah adat tersebut sudah disediakan tempayan tuak,yang akan dibika oleh ketua adat,dan diminum dengan tanduk kerbau dimana setiap orang wajib naik rumah adat dan wajib minum tuak tersebut. Di rumah adat tersebut biasanya ada orang tua bekana atau bedudu dalam bahasa indonesia bernyanyi tetapi penuh arti zaman dahulu.yang menceritakan sepanjang perjalanan dari musim manggul sampai gawai dayak. s

Tidak ada komentar:

Posting Komentar